Filum Platyhelminthes – Struktur, Fungsi, Organ Tubuh, & Pembagian Divisinya

Filum Platyhelminthes – Struktur, Fungsi, Organ Tubuh, & Pembagian Divisinya – Platyhelminthes ialah kelompok hewan cacing dengan bentuk fisik yang pipih. Platyhelminthes memiliki makna cacing pipih yang berasal dari kata “helmin” yang artinya cacing dan “platy” yang artinya pipih. Hewan yang merupakan anggota filum ini bertempat tinggal di habitat perairan, baik di laut ataupun di sungai. Beberapa diantaranya hidup berparasit. Sebagian besar dari hewan platyhelminthes bersifat hemafrodit, yakni mempunyai kelamin ganda di dalam satu tubuh. Akan tetapi, hewan dalam kelompok ini tetap melakukan reproduksi dengan individu lainnya. Hewan ini tidak mempunyai sistem peredaran darah serta pernapasan. Selain itu pada sistem pencernaannya pun tidaklah sempurna, karena tidak terdapat organ anus pada tubuhnya. Kelompok hewan platyhelminthes memiliki ukuran tubuh yang beragam, mulai dari ukuran hamoir mikroskopis sampai pada ukuran panjang mencapai lebih dari 19 cm.

A. Struktur, Fungsi, serta Penjelasan Organ Tubuh Platyhelminthes

Platyhelminthes ialah kelompok hewan yang tak berongga tubuh, sehingganya dinamakan dengan hewan aselomata. Tubuhnya terdiri atas tiga buah lapisan (triplobastik), diantaranya ialah lapisan ektoderm (luar), lapisan tengah (mesoderm), dan lapisan endoderm (dalam). Pada dinding tubuh bagian luar dinamakan epidermis yang ditutupi oleh sel-sel halus bersilia. Pada bagian ujung tubuh terdapat semacam kepala tumpul dan pada bagian ujung lain terdapat ekor yang runcing.

Sistem pencernaan dari kelompok hewan platyhelminthes terdiri atas tiga bagian utama diantaranya ialah mulut, faring, dan usus. Faring dapat dikeluarkan dari mulut guna menangkap makanan yang selanjutnya akan dimasukkan ke dalam mulut kembali untuk mencerna makanan ke dalam usus. Setelah makanan dicerna, sisa makanan dari platyhelminthes akan dikeluarkan melalui tempat masuknya makanan yakni mulut. Hal tersebut terjadi karena platyhelminthes tidak memiliki anus sebagai sistem pembuangan zat sisa makanan pada hewan pada umumnya.

Baca Juga:   Pengertian dan 30 Contoh Majas Eufimisme

Pada sistem syaraf, platyhelminthes diatur oleh otak yang berada pada bagian depan tubuh. Otak tersebut memiliki cabang yang dinamakan ganglion. Cabang ganglion tersebut akan membentuk beberapa cabang sampai mempersarafi setiap bagian tubuh, yang kemudian sistem saraf akan membentuk sebuah sistem tangga tali dengan otak yang terdapat pada bagian depan tubuh. Pada sistem reproduksi platyhelminthes, prosesinya berlangsung secara aseksual dan seksual. Pada umumnya platyhelminthes bersifat hermafrodit, yakni mempunyai dua buah kelamin di dalam satu individu. Akan tetapi perkawinan tersebut tetap akan terjadi pada dua individu yang berlainan jenis kelamin. Setelah terjadi pertemuan antara sel ovum dan sperma, maka selanjutnya akan menghasilkan sel telur dan selanjutnya pembuahan akan terjadi di dalam tubuh. Sedangkan proses reproduksi dengan cara aseksual dilakukan dengan cara fragmentasi.

Pada sistem eksresi, platyhelminthes menggunakan organ tubuh dalam bentuk dua buah saluran memanjang yang berujung pada pori-pori tubuh. Kedua cabang tersebut menyabang hingga pada bagian punggung dan berujung pada sel api yang terdapat silia sebagai pusat eksresi. Sistem respirasi pada kelompok hewan ini dilakukan dengan cara pertukaran oksigen dan karbondioksida melalui sistem difusi. Sistem difusi adalah proses pertukaran zat dari suatu wilatah yang memiliki konsentrasi tinggi menuju ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah.

Baca Juga:   Contoh Cerita Cinderella dalam Bahasa Inggris & Artinya

B. Klasifikasi Kelompok Filum Platyhelminthes

Filum Platyhelminthes dapat dikelompokkan ke dalam tiga macam, diantaranya ialah :

1. Kelas Turbellaria

Turbellaria adalah kelompok hewan platyhelminthes yang bergerak dengan menggetarkan alat tubuhnya yang berupa bulu. Alat gerak tersebut disebut dengan bulu getar. Cacing pipih dalam kelompok ini tidak mempunyai alat hisap dan hidup di wilayah perairan atau tempat lembab secara bebas (tidak berparasit). Salah satu contoh hewan dalam kelas ini ialah planaria. Planaria mempunyai panjang tubuh mencapai 2 cm. Hewan ini memangsa hewan-hewan yang memiliki ukuran lebih kecil dari tubuhnya dan beberapa jenis protista.

Cacing planaria memangsa makanannya dengan menggunakan organ yang disebut sebagai faring. Pada bagian kepalanya terdapat bintik-bintik mata sebagai alat pembeda dalam kondisi terang ataupun gelap. Sedangkan bagian mulutnya berada pada bagian permukaan dan dapat pula berada pada bagian tengah tubuh. Pada bagian mulut terdapat struktur menyerupai taring yang dinamakan probosis yang juga dimanfaatkan sebagai alat untuk menangkap mangsa. Sistem reproduksi yang dilakukannya adalah dengan cara aseksual, yakni membelah tubuhnya.

2. Kelas Trematoda (Cacing Hisap)

Tremotoda ialah kelompok hewan platyhelminthes yang mempunyai organ hisap dan pengait untuk melekatkan tubuhnya pada inang. Hal tersebut menyatakan bahwa hewan ini hidup dengan cara berparasit. Pada bagian tubuh luarnya diselumuti oleh kutikula yang berfungsi supaya tubuhnya tidak dicerna oleh inangnya. Hewan dalam kelas ini tidak mempunyai silia pada bagian permukaan luar tubuhnya. Makanan hewan kelas trematoda adalah berupa cairan yang berasal dari tubuh inang. Contoh hewan dalam kelompok ini adalah cacing hati.

Baca Juga:   Tumbuhan Biji Terbuka (Gymnospermae) – Definisi, Pembagian Divisi, & Proses Reproduksinya

3. Kelas Cestoda

Kelompok hewan cestoda ialah hewan yang memiliki bentuk menyerupai pita yang hidup dengan cara berparasit. Pada bagian kepalanya terdapat semacam kaitan yang memiliki fungsi sebagai pengait tubuh dengan inangnya. Bagian kepala hewan ini secara khusus dinamakan skolek dan pada bagian bawah kepalanya disebut dengan strobilus. Bagian strobilus memiliki fungsi sebagai pembentuk progtolid pada tubuhnya. Progtalid adalah bagian tubuh yang nantinya akan menjadi individu yang baru. Hewan ini secara terus-menerus berupaya membentuk progtolid yang semakin ke ujung, akan semakin membesar (matang). Selama siklus hidupnya, cestoda mampu menginduk pada lebih dari satu tumbuhan sebagai inangnya. Sifatnya yang berparasit ini juga dapat berpindah pada manusia melalui daging babi (yang terjangkiti cestoda) yang dikonsumsi oleh manusia.

Sumber :

DAFTAR PUSTAKA
Kusnadi, dkk. 2010. BUKU SAKU BIOLOGI SMA. Jakarta : Kawan Pustaka

Baca Juga:

Filum Cnidaria- Definisi, Struktur Tubuh, Sistem Organ, dan Pembagian Divisinya
Filum Porifera – Definisi, Ciri, Sistem Reproduksi, Tipe Tubuh, & Klasifikasinya
Soal Biologi Tentang Kingdom Plantae dan Kunci Jawabannya

No Responses

Leave a Reply