Fungsi & Komposisi Darah (Eritrosit, Trombosit, Keping Darah)

Fungsi & Komposisi Darah (Eritrosit, Trombosit, Keping Darah) – Darah merupakan cairan yang terdapat di dalam tubuh makhluk hidup dan mempunyai fungsi sebagai transport pengangkut sari-sari makanan, mengatur proses metabolisme, dan menghantarkan hormon. Darah terdiri atas beberapa komposisi dalam penyusunnya sehingga dapat menjadi cairan yang mampu berperan penting untuk setiap makhluk hidup. Adapun komponen penyusun darah pada manusia adalah sebagai berikut :

a. Eritrosit

Eritrosit atau pada umumnya disebut dengan istilah sel darah merah, dimana darah ini dapat berwarna merah dikarenakan adanya hemoglobin. Kandungan hemoglobin tersusun atas senyawa besi hemin dan salah satu jenis protein yakni globin. Secara keseluruhan fungsi utama dari sel darah merah merupakan sebagai transport oksigen yang bersal dari par-paru menuju ke seluruh tubuh manusia. Dengan demikian makhluk hidup dapat menyerap sari-sari makanan untuk energi secara mudah. Selain itu, fungsi eritrosit juga dapat mengkondisikan kestabilan asam dan basa suatu cairan darah. Dalam setiap molekul hemoglobin (Hb) terdapat 4 atom besi, dimana untuk setiap atom besi ini dapat membawa 1 molekul oksigen yang diperlukan oleh tubuh.

Secara umum pada seorang pria dewasa memiliki jumlah eritrosit mencapai ± 5.400.000 sel per mm3 dan untuk seorang wanita dewasa mencapai ± 4.800.000 sel per mm3. Dengan struktur yang berdiameter sel hingga 7 mikron dan ukuran ketebalan 2 mikron, sedangkan jika diacukan pada kandungan hemoglobin secara normal sekitar 14 sampai 16 gram per 100 milimeter darah. Adanya suatu eritrosit dapat terbentuk di dalam sumsung tulang pipih yang berada di belakang, selain itu juga dapat terbentuk pada tulang pipa.

Baca Juga:   Contoh Pidato Hari Pahlawan 10 November Terbaru

Dalam setiap detik eritrosit mengalami penghancuran sebanyak tiga juta sel dan harus sejumlah itulah eritrosit baru dihasilkan. Eritrosit mempunyai usia rata-rata 120 hari yang kemudian akan dihancurkan oleh organ limfa dan hati. Dari hasil penghancuran hemogrobin terdapat senyawa hemin dan akan diubah menjadi pigmen empedu yang berupa biliverdin dan bilirubin. Secara keseluruhan zat besi yang ada dari hasil perombakan hemoglobin ditransfer kembali pada sumsung tulang belakang dan digunakan untuk pembentukan eritrosi baru di dalam tubuh.

b. Leukosit

Leukosit merupakan sel darah putih yang tidak memiliki pigmen warna, sehingga darah hanya berwarna putih saja. Ukuran diameter leukosit lebih besar jika dibandingkan dengan eritrosit, yakni sekitar 8 hingga 15 mikro dengan masing-masing sel mengandung inti. Adapun leukosit terbentuk di dalam limfa, kelenjar-kelenjar limfoid, dan sumsum merah pada tulang. Dalam keadaan normal manusia usia dewasa mempunya leukosit kurang lebih 5.000 hingga 10.000 sel per mm3 darah.

Perlu dipahami bahwa jumlah leukosit dapat mengalami peningkatan untuk penderita penyakit tertentu. Hal ini disebut dengan istilah leukositosis, misal terjadi pada seseorang penderita penyakit radang paru-paru. Selain itu, pada penderita penyakit leukimia dapat meningkat hingga satu juta per mm3 bahkan bisa mengalami peningkatan yang lebih. Dengan demikian dapat memberikan dampak cukup bahaya dikarenakan sel-sel yang terdapat di dalam sumsung tulang yang menghasilkan eritrosit dirubah oleh sel-sel leukimia sehingga dapat menghambat proses produksi eritrosit baru. Hal ini sangat berbeda pada penyakit tipus, yaitu jumlah leukosit mengalami penurunan sebab dapat merusak jaringan limfoid yang berada di dinding usus.

Baca Juga:   Filum Cnidaria- Definisi, Struktur Tubuh, Sistem Organ, dan Pembagian Divisinya

Berdasarkan keberadaan butiran-butiran yang terdapat dalam cairan selnya leukosit dikelompokkan menjadi agranulosit, yaitu jenis leukosit yang tidak mempunyai butiran-butiran sehingga suatu cairan selnya akan berwarna jernih, akan tetapi mempunyai bagian inti yang besar. Darah putih diperoleh dari jaringan-jaringan limfoid dan dapat dibedakan antara limfosit dan monosit. Selain itu juga bentuk leukosit ada yang berupa granulosit dan pada cairan selnya mengandung butiran yang dapat menyerap zat warna tertentu serta struktur inti sel berlekuk-lekuk. Granulosit diproduksi dalam sumsum merah yang terdapat pada tulang. Berdasarkan kemampuannya granulosit dibedakan menjadi tiga, yakni neutrofil, eosinofil, dan basofil. Adapun penjelasan dari ketiga granulosit tersebut adalah sebagai berikut :

• Neutrofil

Neotrofil adalah bagian dari leukosit yang memiliki jumlah kadar leukosit paling banyak yaitu sekitar 65 sampai 705. Karakteristik bentuk intinya sangatlah beragam dan cairan selnya dapat menyerap zat warna netral. Sifat dari neutrofil yaitu fagosit dan amuboid.

• Eosinofil

Eosinofil mempunyai inti yang tersusun dari dua belahan dan di dalam butiran cairan selnya mampu menyerap zat warna berupa eosin yang bersifat asam. Jumlah eosinofil dapat mengalami peningkatan ketika sedang berlangsungnya proses alergi, misal infeksi cacing tambang dan asma.

Baca Juga:   6 Contoh Puisi Tentang Keindahan Alam Indonesia

• Basofil

Struktur basofil memiliki bentuk inti seperti huruf S dan butiran yang ada pada cairan sel berkemampuan untuk menyerap zat warna yang bersifat basa. Basofil dalam melakukan gerak sangatlah lambat dan belum dapat dipastikan fungsi utamanya di dalam tubuh makhluk hidup.

c. Trombosit

Trombosit merupakan keping-keping darah yang tidak memiliki inti sel. Selain itu, bentuk trombosit tidak beraturan dan berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan eritrosit dan tidak terdapat pigmen warna serta tidak berkemampuan untuk melakukan gerak sendiri. Dengan demikian trombosit atau keping darah ini dalam melakukan geraknya hanya mengikuti aliran darah saja. Trombosit berasal dari megakaryosit yang berada di dalam sumsum merah pada tulang dan berfungsi untuk proses pembekuan darah. Pembekuan darah dapat berlangsung pada saat terjadi kerusakan pembuluh darah sehingga trombosit keluar.

Sumber:http://www.materisma.com/2014/01/penjelasan-fungsi-dan-komposisi-darah.html

Leave a Reply